Friday, August 2, 2013

KEKASIH SEMATA WAYANG


Janganlah tiupkan dingin menceraikan tubuh kita, berilah aku perapian, karena api itu buah musim dingin.
Bercakaplah denganku tentang zaman karena pendengaranku telah dilemahkan desauan angin dan ratapan cuaca.

Akan aku rapatkan pintu dan jendela, karena wajah murka alam membuat sedih hatiku dan pandanglah kota dibawah selimut hujan musim dingin. Terduduk bagai seorang ibu kehilangan anaknya, menyebabkan hatiku berdarah.

Lalu, isilah olehmu, lampu dengan minyak, karena cahaya lampu telah redup. Taruhlah dia disampingku agar dapat kulihat apa yang ditulis sang malam diatas wajahmu. Bawalah kemari guci anggur agar kita bias minum sambil mengenang hari- hari menekan.
Datanglah mendekat padaku,, karena api karena api telah padam dan abu menyembunyikannya. Peluklah aku, karena lampu telah temaram dan kegelapan menguasainya.
Mata kita diberati oleh anggur tahun- tahun. Pandang dan peluklah aku dengan tidur lelapmu. Sebelum sang tidur memeluk kita. Cium aku karena dingin telah berkuasa diatas segalanya, kecuali ciumanmu.

Ah, engkau kekasihku semata wayang, Betapa aku mengidamkan jauhnya sang pagi datang dimalam ini, karena dialam sadarku aku menyadari, aku tahu pagi ketika aku bangun jiwamu telah jauh dan menghilang.

Jangan bangunkan aku ketika aku diselimuti oleh hangatnya aura tubuhmu…atau aku ingin selamanya terlelap dalam tidurku, dan tak mau datangnya matahari diufuk timur jika kedatangannya mengusik. Dan aku pun rela kala engkau menyebut indahnya kematian kita.
Demikian cinta yang mengejek, memperolok diriku, dan menghancurkan harapanku yaitu gabungan suatu kesalahan dan kerinduan seorang yang dipandang rendah.
“Aku patuh…, *apa yang kau kehendaki?
Telah aku ikuti engkau sepanjang garis yang berapi- api dan lidah api yang menghabiskan diriku. Telah kubuka mataku lebar…namun tak menyaksikan apapun kecuali kegelapan; dan membebaskan lidahku, namun tak berbicara kecuali dalam kekakuan dan kesedihan.

Kerinduan memelukku dengan kelaparan jiwa yang tak berenti kecuali dengan ciumanmu. Diriku letih….
Mengapa kau menantang diriku,
Mengapa kau menindasku…
Mengapa engkau meninggalkan diriku..padahal kaulah kehidupanku yang terang…”
Sungai mengalir kelaut, kekasihnya, dan bunga tersenyum pada semangat hidupnya, cahaya dan awan turun ke lembahnya, keinginan. Tapi,,,didalam diriku sungai itu entah kemana, bungapun tiada mengetahuinya, awan gemawan tak mengerti. Lihatlah diriku sendirian dalam kekosongan yang mengekang. Tercerai dari keinginanku, sangat jauh dari dirinya yang tak menghendaki diriku, dari pengawalnya atu dari dari seorang pelayan didalam istananya.”Jiwa membisu sejurus seolah- olah aku ingin belajar bicara dari bisikan sungai atau desau dedaunan didahan pohon.

Ditulis Oleh : Mr. Ezy Vector // 3:53 PM
Kategori:

0 comments:

Post a Comment

 
Powered by Blogger.