Bahagia itu kita yang ciptain, bukan mereka
Home » All posts
Tuesday, September 3, 2013
Sunday, August 4, 2013
Friday, August 2, 2013
BERAPA BANYAK YANG TELAH KAU BERIKAN UNTUKKU?”
“Berapa banyak yang telah kau berikan untukku?” Satu pertanyaan yang sangat
akrab ditelinga kita dan mungkin sering kita tanyakan kepada orang lain baik
itu secara langsung maupun tidak langsung. Saya teringat sebuah ungkapan
kebijaksanaan yang sangat terkenal dari President Amerika Serikat, John F.
Kennedy yang berbunyi, “Jangan pernah tanyakan kepada Negara apa yang telah
Negara berikan kepadamu tetapi tanyakanlah pada dirimu apa yang telah engkau
berikan kepada Negara”. Kurang lebih demikianlah bunyinya.
Dalam menjalani kehidupan seringkali kita selalu mengungkapkan pertanyaan
itu. Dan mungkin setiap hari pertanyaan itu selalu muncul dalam segala aspek
kehidupan kita, soal pekerjaan, soal persahabatan dan tak luput juga soal
percintaan. Malahan terkadang pertanyaan itu semakin lengkap setelah kita
tambahi kalimat seperti, “Dibandingkan dengan apa yang telah kuberikan
kepadamu maka……” atau “Setelah segala sesuatu yang kulakukan untukmu
maka……” atau mungkin “Melihat semua pengorbananku untukmu maka……”.
Tanpa kita sadari telah banyak tekanan yang kita berikan dalam hidup kita
sendiri dan orang-orang yang ada disekitar kita. Pertanyaan diatas
seringkali juga kita sampaikan dalam bentuk lain, contohnya “Aku telah
menolongmu dan lihat apa yang kaulakukan padaku” atau “Masih tidak cukupkah
semua yang kulakukan untukmu” atau seperti ini “Aku sangat mencintaimu namun
mengapa kau menyakitiku”, dan masih banyak lagi bentuk-bentuk tekanan dan
tuntutan yang kita ajukan kepada orangyang ada disekitar kita yang tanpa
kita sadari telah memberikan tekanan dalam hidup kita sendiri.
Hakekat manusia adalah memiliki kelebihan dan kekurangannya. Setiap kita
tentu memilikinya. Namun terkadang kita seringkali melihat sesuatu atau
seseorang dari sudut pandang kita, dari kacamata kita sendiri tanpa pernah
menempatkan diri kita pada sudut pandang mereka. Memang benar bahwa lebih
mudah bagi kita untuk melihat keluar daripada melihat kedalam dan itulah
salah satu kelemahan mendasar yang dimiliki setiap manusia. Meminta atau
menuntut sesuatu merupakan salah satu sifat dasar alamiah yang ada dalam
diri setiap manusia. Sejak masih dalam kandungan secara langsung atau tidak
kita telah meminta dan menuntut dan hal itupun berlanjut hingga kita
melangkahkan kaki ke liang kubur.
Setiap kelemahan mendasar dan sifat dasar alamiah yang kita miliki adalah
sebagian dari elemen-elemen yang membentuk kita dan memberikan kita keunikan
sebagai seorang pribadi atau individu. Namun ada sebagian dari elemen-elemen
itu yang harus kita buang, ubah atau diperbaiki agar dapat memberikan
cirri-ciri menarik dalam kepribadian kita. Tentu hal ini akan sangat baik
dan penting bagi kita sebagai mahluk sosial dalam berinteraksi dengan dunia
yang ada disekitar kita.
Menuntut dan meminta adalah bias dari kebutuhan kita sebagai manusia akan
sesuatu baik itu bersifat materiil ataupun spiritual. Kebutuhan akan
perhatian, kasih sayang dan kebahagiaan adalah sebagian sebab hingga kita
memiliki tuntutan dan permintaan. Bukanlah hal yang salah jika kita meminta
dan menuntut sesuatu karena itu adalah salah satu sarana bagi setiap manusia
untuk merefleksikan kemanusiaannya. Ketidaksempurnaan segala sesuatu
termasuk kita manusia seringkali mengubah tuntutan dan permintaan itu
menjadi beban bagi kita, bagi orang lain dan bagi hubungan yang kita jalin
dan bangun dengan orang lain. Sehingga bukan kebahagiaan yang kita temukan
namun beban dan sakit hati yang selalu kita dapatkan dari semua permintaan
dan tuntutan itu. Jadi, bagaimana cara menyiasati agar sifat dasar meminta
dan menuntut itu dapat berubah dari kelemahan menjadi kekuatan kita?
“Lebih baik tangan diatas daripada tangan dibawah.” Ungkapan kebijaksanaan
abadi yang memiliki arti yang sangat dalam. Atau dengan bahasa lain dapat
disampaikan sebagai berikut, “Lebih baik memberi daripada menerima”. Inilah
hal yang paling penting yang harus kita bangun dalam jiwa kita. Bagaimana
menemukan kebahagiaan dengan lebih banyak memberi dari pada meminta? Tentu
bukan hal yang mudah untuk merubah pola pikir kita yang selama ini telah
tertanam dan terbentuk selama bertahun-tahun. Perlu kerelaan dan keterbukaan
hati untuk lebih banyak melihat keluar daripada melihat kedalam. Perlu
kemawasan diri untuk mau menempatkan diri dan melihat dari kacamata orang
lain.
Masih lebih baik kita bertanya pada diri kita “Seberapa banyak yang telah
kuberikan kepadanya?” dan jika kita belum menemukan kebahagiaan dan apa yang
kita harapkan dari orang itu maka cobalah untuk melihat dari sudut
pandangnya. Terkadang seseorang menyakitimu ataupun melukaimu bukan karena
dia sengaja atau tak peduli padamu ataupun tak mencintaimu serta tak ingat
akan setiap pengorbananmu namun terkadang banyak hal yang dia sebagai
manusia tak bisa membendungnya. Pasti ada alasan dibalik semua itu dan
itulah saatnya bagi kita untuk melihat dari kacamatanya dan merefleksikan
keadaan tersebut.
Jika kita memberi sepenuhnya dan dapat melihat serta mengerti akan seseorang
maka kita akan menemukan kebahagiaan dibalik ketidaksempurnaan. Dan mungkin
dengan semua itu kita dapat merubah seseorang itu sempurna bagi kita.
Ingatlah, setiap ungkapan kebijaksanaan diatas dan satu lagi, “Love is not
demanding but understanding”. Jadi, jika kau hendak memberi, berikanlah
tanpa pamrih dan jika kau mencintai, cintailah tanpa alasan. Itulah hakekat
kesejatian yang abadi dan niscaya jika kita telah dapat menyelaminya maka
kebahagiaan sejati akan menjadi milik kita.
KEKASIH SEMATA WAYANG
Bercakaplah denganku tentang zaman karena pendengaranku telah dilemahkan desauan angin dan ratapan cuaca.
Akan aku rapatkan pintu dan jendela, karena wajah murka alam membuat sedih hatiku dan pandanglah kota dibawah selimut hujan musim dingin. Terduduk bagai seorang ibu kehilangan anaknya, menyebabkan hatiku berdarah.
Lalu, isilah olehmu, lampu dengan minyak, karena cahaya lampu telah redup. Taruhlah dia disampingku agar dapat kulihat apa yang ditulis sang malam diatas wajahmu. Bawalah kemari guci anggur agar kita bias minum sambil mengenang hari- hari menekan.
Datanglah mendekat padaku,, karena api karena api telah padam dan abu menyembunyikannya. Peluklah aku, karena lampu telah temaram dan kegelapan menguasainya.
Mata kita diberati oleh anggur tahun- tahun. Pandang dan peluklah aku dengan tidur lelapmu. Sebelum sang tidur memeluk kita. Cium aku karena dingin telah berkuasa diatas segalanya, kecuali ciumanmu.
Ah, engkau kekasihku semata wayang, Betapa aku mengidamkan jauhnya sang pagi datang dimalam ini, karena dialam sadarku aku menyadari, aku tahu pagi ketika aku bangun jiwamu telah jauh dan menghilang.
Jangan bangunkan aku ketika aku diselimuti oleh hangatnya aura tubuhmu…atau aku ingin selamanya terlelap dalam tidurku, dan tak mau datangnya matahari diufuk timur jika kedatangannya mengusik. Dan aku pun rela kala engkau menyebut indahnya kematian kita.
Demikian cinta yang mengejek, memperolok diriku, dan menghancurkan harapanku yaitu gabungan suatu kesalahan dan kerinduan seorang yang dipandang rendah.
“Aku patuh…, *apa yang kau kehendaki?
Telah aku ikuti engkau sepanjang garis yang berapi- api dan lidah api yang menghabiskan diriku. Telah kubuka mataku lebar…namun tak menyaksikan apapun kecuali kegelapan; dan membebaskan lidahku, namun tak berbicara kecuali dalam kekakuan dan kesedihan.
Kerinduan memelukku dengan kelaparan jiwa yang tak berenti kecuali dengan ciumanmu. Diriku letih….
Mengapa kau menantang diriku,
Mengapa kau menindasku…
Mengapa engkau meninggalkan diriku..padahal kaulah kehidupanku yang terang…”
Sungai mengalir kelaut, kekasihnya, dan bunga tersenyum pada semangat hidupnya, cahaya dan awan turun ke lembahnya, keinginan. Tapi,,,didalam diriku sungai itu entah kemana, bungapun tiada mengetahuinya, awan gemawan tak mengerti. Lihatlah diriku sendirian dalam kekosongan yang mengekang. Tercerai dari keinginanku, sangat jauh dari dirinya yang tak menghendaki diriku, dari pengawalnya atu dari dari seorang pelayan didalam istananya.”Jiwa membisu sejurus seolah- olah aku ingin belajar bicara dari bisikan sungai atau desau dedaunan didahan pohon.
